Konflik Iran Israel: Pemicu, Eskalasi, dan Pertukaran Rudal – Konflik antara Republik Islam Iran dan Negara Israel adalah salah satu perseteruan geopolitik terpanas di abad ke‑21, yang melibatkan persaingan ideologi, isu nuklir dan pertarungan kekuatan di Timur Tengah. Ketegangan ini telah berlangsung selama beberapa dekade dan beberapa kali berubah bentuk — dari perang proksi melalui kelompok milisi, serangan udara rahasia, hingga konfrontasi langsung dengan penggunaan rudal balistik dan drone. Eskalasi terbaru antara kedua negara mencapai puncaknya pada 2024–2025 yang menimbulkan dampak besar secara regional dan global.

Perseteruan itu semakin kompleks karena melibatkan kekuatan lain seperti Amerika Serikat dan negara sekutu Barat, serta dampaknya terhadap ekonomi dunia khususnya harga energi global. Sementara Iran terus mempertahankan program nuklirnya, Israel memperlakukannya sebagai ancaman eksistensial, dan kedua belah pihak terus terlibat dalam serangkaian serangan militer dan balasan yang memicu kekhawatiran perang yang lebih luas.
1. Asal‑Usul Konflik dan Pemicu Utama
Perubahan Hubungan Setelah 1979
Awalnya Iran dan Israel bukan musuh. Hubungan diplomatik kedua negara terjadi sampai Revolusi Iran 1979, ketika rezim baru di Iran memilih ideologi Islam radikal dan menolak keberadaan Israel sebagai negara Yahudi di Timur Tengah. Permusuhan itu kemudian terbentuk menjadi ketegangan struktural yang sulit diselesaikan.
Program Nuklir Iran dan Ketidakpercayaan Israel
Isu pusat konflik modern adalah program nuklir Iran, di mana Tel Aviv dan sekutu Barat menuduh Tehran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Iran selalu membantah, menyatakan programnya bersifat damai. Ketidakpercayaan ini menjadi alasan utama Israel melakukan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran beberapa kali.
2. Eskalasi Langsung: Serangan Udara & Balasan Rudal
Operasi Udara Israel Rising Lion
Puncak konflik terjadi pada 13 Juni 2025, ketika militer Israel melancarkan serangan skala besar ke fasilitas nuklir dan militer Iran, yang disebut Operation Rising Lion. Serangan ini melibatkan ratusan jet tempur yang menargetkan Natanz, fasilitas penelitian, dan infrastruktur militer strategis Tehran.
Balasan Rudal Iran
Sebagai balasan terhadap serangan udara Israel, Iran meluncurkan gelombang besar rudal balistik dan drone ke berbagai kota termasuk wilayah sipil. Laporan menyebut puluhan hingga ratusan rudal diluncurkan, beberapa berhasil menembus sistem pertahanan Israel dan menyebabkan kerusakan signifikan termasuk di fasilitas sipil dan institusi ilmiah seperti Weizmann Institute of Science di Rehovot.
Insiden Serangan Terhadap Fasilitas Sipil
Konflik ini juga mencatat serangan terhadap fasilitas sipil seperti rumah sakit dan pusat kesehatan di kedua negara. Serangan semacam ini memperburuk krisis kemanusiaan dan meningkatkan kecaman internasional terhadap kedua belah pihak.
3. Pertukaran Rudal dan Perang 12 Hari
Intensitas Rudal dan Korban
Selama puncak pertempuran pada Juni 2025, rudal Iran menghantam jantung Israel, menyebabkan korban tewas dan luka‑luka pada warga sipil, penutupan fasilitas publik seperti bandara, serta kerusakan infrastruktur kota. Sementara itu Israel juga melaporkan korban jiwa dari serangan balasan dan serangan udara mereka terhadap target militer Iran.
Durasi Konflik dan Gencatan Senjata
Konflik langsung memuncak menjadi perang selama sekitar 12 hari, yang pada akhirnya berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni 2025 setelah intervensi diplomatik internasional dan tekanan global. Kedua pihak mengklaim kemenangan, namun kerusakan fisik dan psikologis yang terjadi sangat besar.
4. Dampak Global dan Reaksi Internasional
Dampak Ekonomi Dunia
Perang Iran–Israel memiliki dampak luas terhadap harga minyak dunia karena ketidakpastian pasokan energi di kawasan Teluk yang strategis. Harga minyak sempat bergerak naik signifikan akibat kekhawatiran gangguan distribusi.
Sikap Negara Lain
Puluhan negara, termasuk Indonesia dan anggota Liga Arab, mengeluarkan pernyataan mendesak penghentian kekerasan dan kembali ke jalur diplomasi, menandai kekhawatiran dunia atas perluasan konflik di Timur Tengah.
5. Usaha Diplomasi & Masa Depan Konflik
Perundingan Nuklir dan Negosiasi AS‑Iran
Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat tentang pembatasan program nuklir kembali berlangsung secara tidak langsung dengan mediator internasional, meskipun kemajuan masih lambat dan penuh tantangan. Ketidakpastian ini mempertahankan risiko konflik lanjutan jika diplomasi gagal mencapai kesepakatan.
Risiko Eskalasi Baru
Meskipun gencatan senjata telah dicapai, kedua negara tetap memperkuat militernya dan melakukan latihan rudal, menunjukkan bahwa kemungkinan konflik baru atau eskalasi lanjutan masih nyata jika ketegangan politik dan strategis tidak reda.
Tips Tambahan Mengikuti Konflik Iran dan Israel
- Pantau Sumber Berita Resmi dan Terpercaya: Gunakan sumber berita internasional dan terpercaya seperti BBC, Al Jazeera, Reuters, atau CFR untuk mendapatkan informasi akurat tentang eskalasi dan perundingan. Hindari berita yang tidak diverifikasi agar tidak terjebak hoaks.
- Perhatikan Kronologi dan Peta Konflik: Memahami lokasi serangan, jalur rudal, dan wilayah konflik akan membantu memahami dampak strategis. Peta interaktif dari situs resmi atau lembaga riset internasional sangat berguna.
- Analisis Dampak Global: Ketegangan Iran dan Israel memengaruhi ekonomi dan politik global. Perhatikan harga energi, rute perdagangan, dan respons diplomatik negara lain untuk perspektif yang lebih luas.
- Pelajari Sejarah Hubungan Iran dan Israel: Mengetahui latar belakang ideologi, perang proksi, dan perjanjian yang gagal akan membantu memahami mengapa konflik ini sulit diselesaikan.
- Perhatikan Pernyataan Diplomatik Terbaru: Tindakan dan pernyataan pejabat dunia, seperti AS, Rusia, dan negara-negara Arab, sering menentukan arah eskalasi atau de-eskalasi konflik.
Penutup:
Konflik Iran dan Israel merupakan hasil dari akumulasi sejarah panjang ketegangan politik, ideologi, dan persaingan strategis. Pemicu utama adalah permasalahan nuklir Iran serta serangan militer yang dilakukan oleh kedua negara, yang memuncak dalam pertukaran rudal berskala besar dan perang 12 hari pada 2025.
Selain korban langsung dan kerusakan, konflik ini juga memengaruhi dinamika geopolitik global dan ekonomi dunia menunjukkan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah berpotensi terus terguncang tanpa penyelesaian diplomatik yang berkelanjutan.